Rabu, 04 Januari 2012

KAITAN ANTARA PENDIDIKAN DAN TERBENTUKNYA STRATIFIKASI DAN DEFESIANSI SOSIAL


KAITAN ANTARA PENDIDIKAN DAN TERBENTUKNYA STRATIFIKASI DAN DEFESIANSI SOSIAL


Makalah Ini Di Sususun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Peradapan Islam Serta Sebagai Syarat Mengikuti Ujian Akhir Semester
Pada Jurusan Tarbiyah








 






Oleh:
KELOMPOK IV

1.      MUDAKIR
2.      MASRUROH
3.      LISROHYANI
4.      SITI WINARSIH
5.      SITI MAISAROH

6.      PRAMADA AFIF FAUZAN
7.      SRI DEWI WAHYUNI
8.      ANIS MUFLIKHAH
9.      YULIANA MIJI LESTARI

Dosen Pengampu:
Drs. H. MUSTHOFA, MM


JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA MADIUN
UII MADIUN
2011

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL  ………………………………………………… ..………    i 
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ……….   ii
BAB I      : PENDAHULUAN ………………………………………….. ……….    
A.    Latar Belakang Masalah …………………………………. ………   2
B.     Rumusan  Masalah ……………………………………………….    2
BAB II    : PENDIDIKAN…………………………………………………. …….    
A.    Pengertian ……………………….. ……………………………….   3
BAB III   : DIFERENSIASI SOSIAL ………………………………….  ……….     
A.    Pengertian  ………………………………………… ………….….   4
B.     Ciri-Ciri Dasar  …………………………………...……  ……..….   4
C.     Bentuk-Bentuk ……  ………………………………………….….   4
BAB VI   : STRATIFIKASI SOSIAL ………………………………….  ……….      
A.    Pengertian  ………………………………………… ………….….   7
B.     Dasar  Pembentukan  ……………………………...…… ……..….   7
BAB V    : KAITAN ANTARA PENDIDIKAN DAN TERBENTUKNYA
                   DIFERENSIASI DAN STRATIFIKASI SOSIAL ….…… ………..…. 9
BAB VI   : PENUTUP …………………………………………………………….   
A.    Kesimpulan ……………………………………………… ………. 10
B.     Penutup ………………………………………… ………….……. 10
.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sekolah maupun lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar agar para peserta didik dapat berhasil dalam belajar dengan cara membantu peserta didik itu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Disinilah letak penting dan urgennya program penyaluran bimbingan dan penyuluhan untuk membantu para peserta didik agar mereka dapat berhasil dalam belajar dengan memuaskan.[1]
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dari fokus penelitian diatas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut:
  1. Apakah pengertian pendidikan secara meluas dari pendapat para ahli?
  2. Apakah pengertian Deferensiasi Sosial, cirri-ciri dasar dan bentuk- bentuk dari Deferensiasi Sosial itu?
  3. Apakah pengertian Stratifikasi sosial dan apa per?
  4. Apa pengaruh serta kaitan dari Pendidikan, Deferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial?



BAB II
P E N D I D I K A N
A.      Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Ada pula yang mendefinisikan pendidikan dalam 3 pengertiaan:
1.    Pendidikan merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive di dalam kompetisi kehidupannya.
2.    Pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari orang dewasa kepada orang lain, untuk menuju kearah kedewasaan, kemandirian serta kematangan mentalnya.
3.    Pendidikan merupakan aktivitas untuk melayani orang lain dalam mengeksplorasi segenap potensi dirinya, sehingga terjadi proses perkembangan kemanusiaannya agar mampu berkompetisi di dalam lingkup kehidupannya
Sedangkan Filosofi pendidikan menyatakan “Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya." Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

BAB III
DIFERENSIASI SOSIAL
A.      Pengertian Diferensiasi Sosial
Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaan-perbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.
Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah tetapi perbedaan itu hanya secara horizontal, perbedaan seperti ini dalam sosiologi dikenal dengan istilah Diferensiasi Sosial.

B.       Ciri-Ciri Dasar Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Ciri Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
b.
Ciri Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c.
Ciri Budaya
Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.
C.      Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial
Pengelompokan masyarakat membentuk delapan kriteria diferensiasi sosial, yaitu sebagi berikut:
1.
Diferensiasi Ras
Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciriciri fisiknya, bukan budayanya.
2.
Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)
Suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut :
-
ciri fisik
-
kesenian
-
bahasa daerah
-
adat istiadat
3.
Diferensiasi Klen (Clan)
Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).
4.
Diferensiasi Agama
Menurut Durkheim agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Agama merupakan masalah yang essensial bagi kehidupan manusia karena menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral (umat). Umat pemeluk suatu agama bisa dikenali dari cara berpakaian, cara berperilaku, cara beribadah, dan sebagainya.
Jadi, Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.
5.
Diferensiasi Profesi (pekerjaan)
Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau mata pencahariannya. Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi guru memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb.
6.
Diferensiasi Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita.
7.
Diferensiasai Asal Daerah
Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:
-
Masyarakat desa
: kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa;
-
Masyarakat kota
: kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.
Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini:
-   Perilaku
-   Tutur Kata
-   Cara Berpakaian
-   Cara Menghias Rumah, Dsb.
8.
Diferensiasi Partai
Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai. Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran.


BAB IV
STRATIFIKASI SOSIAL
A.      Pengertian Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis), dalam buku karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Statifikasi sosial menurut Max Weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.

B.       Dasar-Dasar Pembentukan Stratifikasi Sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut :
1.    Ukuran Kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
2.    Ukuran Kekuasaan Dan Wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.


3.    Ukuran Kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
4.    Ukuran Ilmu Pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.


BAB V
KAITAN ANTARA PENDIDIKAN DAN TERBENTUKNYA DIFERENSIASI DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut pengertian pendidikan di atas, jelas lah bahwa pendidikan dan diferensiasi serta stratifikasi sosial mempunyai hubungan dan keterkaitan yang sangat erat, di mana tujuan pendidikan adalah kekuatan spiritual agama, pengendalian dri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan dimana sumaunya merupakan pecahan dari diferensiasi dan stratifikasi sosial.
Keluarga, masyarakat dan sekolah merupakan tempat terjadinya proses pendidikan, di mana diferensiasi dan stratifikasi sosial sudah mengakar dan tak terpisahakan tempat terjadinya proses pembelajaran tersebut, dan terbentuknya diferensiasi dan stratifikasi sosial juga sangat di pengaruhi pendidikan.
Pendidikan juga meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam, yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi, dimana kebudayaan lama dan pengaruh lingkungan sekitar akan sangat berpengaruh.
Dasar stratifikasi sosial dalam masyarakat lebih disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai lebih, baik itu kekayaan, kekuasaan, kehormatan, keturunan, maupun ilmu pengetahuan.
Pendidikan atau ilmu pengetahuan dalam  masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan dan pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau berpendidikan tinggi akan mendapat penghargaan lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak berpendidikan. Pendidikan merupakan salah satu dasar ter bentuknya stratifikasi sosial, dan mungkin dasar yang paling kuat karena orang yang mempunyai pendidikan akan lebih mudah dalam mendapatkan kekuasaan, kehormatan dan akan yang merupakan dasar terbentuknya stratifikasi sosial.

BAB V
P E N U T U P
A.  KESIMPULAN
-       Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
-       Kesemua perbedaan pada diferensiasi sosialini menjadikan struktur masyarakat menjadi majemuk. Suatu masyarakat yang majemuk umumnya memiliki kebudayaan yang bermacam-macam. Hal ini dapat menimbulkan konflik-konflik sosial atau setidaknya oleh kurangnya integrasi dan saling ketergantungan di antara kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya. Namun tidak selamanya masyarakat majemuk mempunyai dampak negatif. Struktur masyarakat yang majemuk tentunya memiliki khazanah budaya yang kaya
-       Dasar stratifikasi sosial dalam masyarakat lebih disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai lebih, baik itu kekayaan, kekuasaan, kehormatan, keturunan, maupun ilmu pengetahuan.

B.  PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat, kami yakin masih ada banyk kekurangan dalam makalah ini, untuk lebih menambah pengetahuan kami, kami mohon kritik dan sarannya. Terimakasih




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar